PONTIANAK — Ratusan pembaca memadati Gramedia GAIA Pontianak untuk bertemu langsung dengan penulis Rintik Sedu. Kedatangannya kali ini bukan sekadar acara temu sapa, melainkan juga peluncuran novel anyarnya yang berjudul Musim yang Tak Sempat Kita Miliki.
Novel tersebut mengisahkan Rani, editor penerbitan yang menjalani hidup tenang di penghujung usia 20-an. Hidupnya berubah saat kantornya mendapat proyek dari perusahaan parfum lokal. Proses penyusunan naskah justru mempertemukannya kembali dengan sosok dari masa lalu—orang yang pertama kali membuatnya jatuh cinta pada dunia menulis.
Fenomena Backburner yang Menginspirasi Novel Terbaru
Dalam sesi diskusi, Rintik Sedu mengungkapkan bahwa proses kreatifnya kini tidak lagi bertumpu pada pengalaman pribadi. Ia lebih banyak menyerap keresahan publik, terutama yang mengalir deras di media sosial.
"Sekarang semua orang berbagi keresahannya lewat media sosial. Buat penulis, itu sangat memudahkan. Kita jadi tahu apa yang sedang terjadi, pembaca lagi merasakan apa. Menurut aku, sensitif terhadap isu yang dekat itu sangat penting buat menulis buku," ujarnya.
Ide awal novel ini muncul dari tren backburner yang sempat hangat diperbincangkan warganet. Rintik Sedu mengaku tak menyangka topik itu bertahan lama hingga kini.
"Di buku yang ini, itu karena tren backburner waktu itu. Aku kira paling enam atau tujuh bulan berlalu, ternyata ramai sekali sampai sekarang," katanya.
Alasan di Balik Penggunaan Nama Pena
Rintik Sedu juga menceritakan awal kariernya. Sejak pertama kali menulis, ia memilih memakai nama pena agar pembaca fokus pada karya, bukan sosok di baliknya.
"Aku mau orang fokus dengan apa yang ditulis, bukan siapa orang di baliknya. Aku pengen membuat ruang baru tanpa orang melihat dan tahu siapa yang menulis," jelasnya.
Baginya, menulis adalah ruang untuk kembali berkenalan dengan diri sendiri. Aktivitas yang awalnya tak pernah ia duga akan bertahan lama ini justru menjadi bagian dari hidupnya.
"Aku menemukan perasaan lengkap itu dengan menulis. Sampai sekarang pun susah aku jelaskan. Dan aku juga enggak menyangka kalau menulis akan menjadi kegiatan yang awet sama aku," tuturnya.
Pesan untuk Pembaca yang Ingin Berkarya
Kepada peserta yang bercita-cita menjadi penulis, Rintik Sedu menyampaikan satu pesan tegas: berhenti menunggu kesempurnaan. Banyak orang terlalu lama memoles tulisannya hingga tak kunjung dibagikan.
"Tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai, disampaikan, dan ditunjukkan ke orang. Selama tulisan itu cuma ada di laptop atau di buku, tulisan itu enggak hidup," katanya.
Ia menambahkan, kritik dari pembaca adalah bagian tak terpisahkan dari proses berkarya. Justru dari sanalah seorang penulis belajar.
"Kalau kita menulis atau berkarya, harus ada yang enggak suka, harus ada yang kritik. Dari situ kita belajar juga," ujarnya.
Pembaca: dari Air Mata di Era Geez & Ann hingga Senyum di Novel Baru
Suasana hangat mewarnai sesi tanya jawab dan penandatanganan buku. Sejumlah pembaca mengaku akhirnya bisa mewujudkan keinginan bertemu penulis yang karyanya mereka ikuti selama bertahun-tahun.
El, salah satu pengunjung, mengaku telah mengikuti perjalanan Rintik Sedu sejak era Geez & Ann. Pertemuan kali ini terasa berbeda baginya.
"Sana sudah nemenin aku dari masa galau sampai sekarang. Aku enggak nyangka banget akhirnya bisa ketemu langsung. Kalau ketemu waktu Geez & Ann, mungkin aku datang dengan air mata. Tapi sekarang, di Musim yang Tak Sempat Kita Miliki, aku bisa kasih senyuman yang paling bahagia," ungkapnya.
Hal serupa disampaikan Sekar, yang mengaku sangat bahagia bisa bertemu langsung dengan penulis favoritnya. "Beliau adalah penulis pertama yang aku temuin. Jadi benar-benar happy banget. Terima kasih juga Kak Sana, baik banget tadi. Semoga bisa ketemu lagi," katanya.