Pencarian

Bripda Santoni Abui, Bhabinkamtibmas di Perbatasan Bengkayang, Rela Mengajar Anak SD hingga Dampingi Petani Jagung

Sabtu, 11 Juli 2026 • 16:57:31 WIB
Bripda Santoni Abui, Bhabinkamtibmas di Perbatasan Bengkayang, Rela Mengajar Anak SD hingga Dampingi Petani Jagung
Bripda Santoni Abui mengajar anak SD di perbatasan Bengkayang dengan penuh dedikasi.

BENGKAYANG — Selama hampir tujuh bulan, polisi berseragam itu menyisihkan waktu luangnya untuk duduk di bangku sekolah dasar. Ia tak membawa borgol atau pentungan, melainkan buku pelajaran dan cerita tentang Indonesia.

“Kalau ada waktu luang, daripada tidak dipakai untuk apa-apa, saya isi dengan membantu memberikan materi kepada anak-anak,” kata Abui kepada ANTARA, Sabtu.

Kehadirannya dengan seragam dinas justru disambut antusias oleh para murid. Anak-anak di perbatasan itu mengenalnya sebagai “Pak Polisi” yang mengajar membaca, berhitung, dan menanamkan rasa bangga sebagai warga negara Indonesia.

Mengubah Pola Pikir di Tengah Pengaruh Negara Tetangga

Bagi Abui, tantangan di wilayah perbatasan tak hanya soal medan. Jalan tanah merah yang licin saat hujan dan keterbatasan infrastruktur menjadi pemandangan sehari-hari. Namun, yang lebih ia khawatirkan adalah kuatnya pengaruh dari Malaysia.

“Saya ingin mengubah pola pikir mereka. Karena tinggal di perbatasan, pengaruh dari luar sangat banyak. Saya ingin mereka tetap bangga menjadi orang Indonesia,” ujarnya.

Semangat belajar anak-anak di desa binaannya menjadi pengalaman yang paling membekas. “Saya salut dengan semangat belajar mereka. Kekompakan mereka juga luar biasa. Jarang saya menemukan suasana seperti itu,” katanya.

Dari Ruang Kelas ke Lahan Jagung

Kini rutinitas Abui bergeser. Seiring program ketahanan pangan Polri, ia lebih banyak mendampingi petani mengembangkan budidaya jagung. Hampir setiap hari ia turun ke lahan, mulai dari menyiapkan tanah hingga panen.

“Hasil yang baik hari ini tidak ditanam kemarin,” katanya, memegang prinsip bahwa membangun sumber daya manusia sama seperti bertani—butuh kesabaran dan proses.

Menurutnya, pendidikan dan ketahanan pangan adalah dua fondasi penting bagi kawasan perbatasan. Pendidikan menyiapkan generasi penerus, sedangkan ketahanan pangan memperkuat kesejahteraan keluarga.

Pesan untuk Generasi Muda Perbatasan

Di akhir masa mengajarnya, Abui berpesan agar anak-anak terus belajar dan tidak menggantungkan masa depan di negeri seberang. “Daripada bekerja ke Malaysia, lebih baik membangun kebun sendiri. Jadilah bos muda di negeri sendiri. Daerah ini punya potensi besar kalau dikelola dengan kerja keras,” katanya.

Baginya, dedikasi tak selalu butuh tindakan besar. Kadang cukup meluangkan waktu mengajar, ikut menanam jagung, atau mendengarkan keluh kesah warga.

“Sebaik dan semaju apa pun negara lain, itu tetap negara orang. Kalau bukan kita yang mempertahankan, membangun, dan memajukan perbatasan, lalu siapa lagi?” katanya.

Follow www.kabarsingkawang.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kalbar.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks