KALIMANTAN BARAT — Setelah sukses menembus semifinal pada edisi 2022, Maroko datang dengan status berbeda. Tim Singa Atlas tidak lagi dianggap sebagai kuda hitam atau tim underdog yang diunggulkan. Kepercayaan diri Achraf Hakimi dan kolega kini berada di level tertinggi.
Beban Sejarah di Panggung Sepak Bola
Morocco World News dalam laporannya menegaskan, laga ini membawa bobot simbolis yang melampaui sekadar olahraga. "Para penggemar Singa Atlas melihatnya sebagai kesempatan lain untuk menghadapi warisan era kolonial di panggung olahraga terbesar di dunia," tulis media tersebut.
Hubungan kolonial Prancis-Maroko meninggalkan luka mendalam. Maroko berada di bawah protektorat Prancis sejak 30 Maret 1912 hingga akhirnya merdeka pada 2 Maret 1956. Kini, lapangan hijau menjadi arena baru untuk menegaskan identitas.
Optimisme Berbeda Dibanding 2022
Jika pada Piala Dunia 2022 publik Maroko pesimistis saat berhadapan dengan Prancis di semifinal, kini situasi berbalik. Keyakinan untuk mengalahkan juara bertahan dunia itu tumbuh subur. Maroko tidak lagi hidup dalam narasi dongeng—mereka adalah tim yang diperhitungkan.
Secara head to head, kedua tim sudah bertemu enam kali. Prancis unggul dengan empat kemenangan dan dua hasil imbang. Salah satu laga imbang tersebut berakhir dengan kemenangan Prancis lewat adu penalti.
Lebih dari Sekadar Revans Olahraga
Bagi warga Maroko, pertandingan Kamis malam nanti adalah momentum untuk menulis ulang sejarah. Kemenangan atas Prancis di panggung Piala Dunia akan menjadi tonggak baru—sebuah simbol bahwa era kolonial sudah benar-benar usai, dan Maroko kini berdiri sejajar.
Pertandingan ini dijadwalkan berlangsung di Stadion Boston, markas New England Revolution. Duel dua benua ini diprediksi berjalan sengit, dengan tensi politik dan emosional yang tak bisa diabaikan.