KALIMANTAN BARAT — Kebangkitan Spanyol di Piala Dunia 2026 tidak bertumpu pada gemerlap tiki-taka seperti era 2010, melainkan pada tembok pertahanan yang nyaris tak tertembus. Tim asuhan Luis de la Fuente sukses melaju ke perempat final tanpa sekalipun kebobolan, sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah turnamen. Rekor 609 menit tanpa kebobolan yang dicatat kiper Unai Simon menjadi bukti solidnya lini belakang La Roja.
Unai Simon dan Tembok Kokoh di Lini Belakang
Unai Simon terus menorehkan sejarah pribadinya. Kiper Athletic Bilbao itu melewati rekor Walter Zenga (517 menit, Italia 1990) dan Iker Casillas (476 menit) berkat penampilan disiplin melawan Portugal. "Kami tidak butuh penyelamatan ajaib dari Simon karena pertahanan bekerja kolektif, melacak mundur, dan menyelesaikan masalah satu lawan satu," ujar pakar sepak bola Spanyol, Guillem Balague, kepada BBC Sport.
Duet bek tengah Aymeric Laporte dan Pau Cubarsi menjadi fondasi utama. Pola mereka disebut Balague sempurna untuk gaya main Spanyol: memutar bola, membawa bola ke depan, dan bertahan dengan ruang kosong di belakang. Kehadiran Rodri sebagai gelandang bertahan juga krusial. "Rodri mencapai versi terbaiknya dalam dua laga terakhir. Dia adalah mercusuar tim," tambah Balague.
Mentalitas Baru: Solidaritas, Bukan Sekadar Penguasaan Bola
Berbeda dengan era 2010 yang mengandalkan umpan-umpan pendek Xavi dan Iniesta, Spanyol sekarang mengedepankan kerja keras tanpa bola. De la Fuente menekankan mantra solidaritas, usaha, dan pengorbanan. "Ini hasil kerja kolektif, soliditas defensif yang luar biasa. Ada solidaritas, usaha, pengorbanan, dan semua pemain berlari untuk satu sama lain," kata De la Fuente usai laga melawan Portugal.
Meski memiliki kekayaan lini serang seperti Mikel Oyarzabal (17 gol dalam 17 start terakhir), Lamine Yamal, dan Pedri, fakta di lapangan menunjukkan pertahananlah yang membawa Spanyol sejauh ini. Mereka menjadi tim pertama dalam sejarah Piala Dunia yang tidak kebobolan dalam enam pertandingan beruntun, memecahkan rekor Italia (1990) dan Swiss (2006-2010).
Ujian Berikutnya: Menatap Perempat Final dan Ancaman Prancis
Konsistensi Spanyol akan diuji pada Jumat mendatang saat berhadapan dengan tuan rumah Amerika Serikat atau Belgia di perempat final. Mantan striker Inggris Chris Sutton menilai lini belakang Spanyol menjadi mimpi buruk bagi lawan. "Fakta bahwa mereka tidak kebobolan sangat mengancam tim lain. Ujian terberat akan datang jika mereka bertemu Prancis. Saya pikir Spanyol mampu mengalahkan Prancis, tetapi mereka harus tampil nyaris sempurna," ujar Sutton di BBC Radio 5 Live.
Perjalanan Spanyol sejak juara Piala Dunia 2010 memang naik turun. Setelah mempertahankan gelar Euro 2012, mereka tersingkir di fase grup dua edisi Piala Dunia berturut-turut sebelum gugur di babak 16 besar edisi 2022. Kini, sebagai juara Eropa bertahan, La Roja kembali menunjukkan gigi. "Penampilan melawan Portugal memang tidak bagus, tapi Anda merasa masih ada banyak ruang untuk berkembang. Itu pertanda buruk bagi lawan," pungkas Sutton.