KALIMANTAN BARAT — NASA mengonfirmasi bahwa komunikasi dengan wahana robotik LINK telah terjalin sejak peluncuran misi Swift Boost. Peluncuran dilakukan pada Kamis (3/7) pukul 04.36 waktu AS bagian timur, setelah sempat tertunda beberapa kali. LINK kini dalam tahap pengecekan sistem oleh tim Katalyst Space selama beberapa pekan ke depan.
Cara Tak Biasa: Roket Dilepaskan dari Pesawat di Ketinggian 40.000 Kaki
Proses pengiriman LINK ke luar angkasa tidak menggunakan roket konvensional dari darat. Wahana ini menumpang roket Northrop Grumman Pegasus XL yang digantung di bawah pesawat bernama Stargazer. Pesawat lepas landas dari Atol Kwajalein, Kepulauan Marshall, lalu melepaskan roket di ketinggian sekitar 40.000 kaki.
Setelah jatuh bebas beberapa detik, mesin roket menyala dan mendorong LINK menuju orbit. Metode peluncuran udara seperti ini tergolong langka dan biasanya digunakan untuk muatan berukuran kecil hingga menengah.
LINK Akan Menambatkan Teleskop dengan Tiga Lengan Robotik
Setelah lolos uji kesehatan sistem, LINK akan bergerak mendekati teleskop Swift untuk melakukan survei awal. Tahap berikutnya adalah proses penangkapan dan penambatan menggunakan tiga lengan robotik yang dimiliki LINK.
Proses mendorong teleskop ke orbit yang lebih tinggi — sekitar 370 mil dari Bumi — diperkirakan memakan waktu 10 hingga 12 pekan. Kenaikan orbit ini dipercaya bisa memperpanjang masa pakai Swift hingga sepuluh tahun.
Aktivitas Matahari Mempercepat Penurunan Orbit Swift
Semua wahana antariksa pada akhirnya akan kehilangan ketinggian orbitnya secara alami. Namun, aktivitas matahari yang meningkat belakangan ini menyebabkan orbit Swift menurun lebih cepat dari yang diperkirakan para insinyur. Tanpa bantuan LINK, teleskop ini diprediksi akan jatuh dari orbit dan terbakar di atmosfer sebelum akhir tahun.
Mengenal Neil Gehrels Swift Observatory: Pemburu Semburan Sinar Gamma
Selama lebih dari dua dekade, Swift telah mempelajari semburan sinar gamma atau gamma ray bursts — ledakan energi tinggi di luar angkasa yang hanya berlangsung beberapa detik. Brad Cenko, peneliti utama Swift, menjelaskan bahwa semburan ini melepaskan energi lebih besar dalam hitungan detik dibanding energi yang dihasilkan Matahari sepanjang hidupnya.
"Unsur-unsur terberat dalam tabel periodik, termasuk emas dan platinum di perhiasan kita, terbentuk di sistem-sistem ini," kata Cenko, mengutip data yang dikumpulkan Swift. Kini teleskop tersebut juga berfungsi sebagai "responden pertama" yang mengumpulkan data penting saat terjadi peristiwa kosmik mendadak.
Misi Swift Boost menjadi salah satu upaya penyelamatan wahana antariksa yang masih berfungsi namun terancam kehilangan orbit. Keberhasilan LINK menambatkan dan mendorong Swift akan menjadi tolok ukur bagi misi serupa di masa depan, termasuk untuk satelit komersial yang juga rentan terhadap perubahan orbit akibat aktivitas matahari.