Pencarian

Semangat Anak Flores Belajar di Tengah Keterbatasan Sekolah

Jumat, 09 Oktober 2026 • 09:21:04 WIB
Semangat Anak Flores Belajar di Tengah Keterbatasan Sekolah
Anak-anak di Flores tetap bersemangat belajar meski harus menempuh perjalanan jauh dan menghadapi keterbatasan fasilitas sekolah.

KALIMANTAN BARAT — Sebagian anak di Flores, Nusa Tenggara Timur, harus menempuh perjalanan jauh setiap pagi demi sampai ke ruang kelas. NYATA Foundation mengunjungi 11 sekolah partner selama tujuh hari dan menemukan rasa ingin tahu anak-anak yang tetap besar meski fasilitas pendidikan belum merata.

Perjalanan menuju sekolah di Flores tidak selalu mudah. Kondisi geografis dan fasilitas pendidikan yang belum merata membuat sebagian anak harus berjalan jauh sebelum akhirnya bisa membaca, berhitung, dan bertanya di ruang kelas sederhana.

NYATA Foundation melihat langsung keseharian itu dalam kunjungan ke sejumlah sekolah di Nusa Tenggara Timur. Anak-anak datang bukan sekadar mengikuti pelajaran, tetapi juga berani mencoba berbagai aktivitas dan menunjukkan kemampuan mereka saat diberi kesempatan.

Yang Paling Membekas dari Anak-Anak Flores

Co Founder sekaligus CMO NYATA Foundation, Pamela Berliana, menyebut semangat anak-anak sebagai hal yang paling membekas selama kunjungan. Kondisi pascagempa dan sarana pendidikan yang terbatas tidak menyurutkan rasa ingin tahu mereka.

"Yang membekas itu bukan keterbatasannya, tapi semangat dan rasa ingin tahu mereka yang begitu besar. Mereka tetap belajar, tetap mencoba, tetap berkarya. Saat kami datang, mereka benar-benar senang dan sangat antusias menunjukkan kemampuan mereka dengan percaya diri," kata Pamela saat jumpa pers di Jakarta, Rabu, 7 Oktober 2026.

Pengalaman itu membuat perhatian NYATA Foundation tidak berhenti pada kondisi fisik bangunan sekolah. Kebutuhan pendidikan dilihat dari keseharian anak, guru, dan lingkungan yang menopang proses belajar.

Tujuh Hari, 11 Sekolah, Kebutuhan yang Berbeda

Selama sepekan, tim NYATA Foundation mengunjungi 11 sekolah partner dan melakukan survei terhadap lima calon sekolah partner. Tim berbicara dengan guru, orangtua, dan anak-anak sambil mengikuti proses belajar-mengajar di masing-masing sekolah.

"Kami benar-benar mengunjungi satu per satu sekolah partner kami untuk mendengar dan melihat kebutuhan mereka," ujar Co Founder sekaligus CEO NYATA Foundation, Nicole Oeij Teng.

Pengamatan langsung memperlihatkan kebutuhan yang tidak seragam. Ada sekolah yang butuh dukungan sarana pendidikan, ada yang menghadapi tantangan akses, dan ada pula yang menyoroti ketersediaan guru.

Irjen Jayadi, pelari lintas alam dan ultramaraton, ikut mengikuti perjalanan ke Flores. Medan yang dilalui bukan satu-satunya tantangan yang ia rasakan. Kehidupan masyarakat dengan berbagai keterbatasan memberinya kesan kuat selama berada di lapangan.

Pendampingan Guru untuk Mengasah Bakat Anak

Perhatian kemudian diarahkan pada kemampuan yang dimiliki anak-anak. Guru dinilai punya posisi penting karena berinteraksi dengan siswa setiap hari dan bisa melihat minat yang mulai muncul.

Pendampingan guru menjadi salah satu gagasan yang disiapkan agar bakat anak memperoleh ruang berkembang. "Lebih ke mungkin kita akan memberikan pendampingan guru dan program supaya bakat anak-anak ini bisa lebih keluar," ungkap Nicole.

"Jadi ada guru, ada kegiatan belajar mengajar, tapi juga ada kesempatan untuk mereka bisa coba dan mengembangkan potensi."

Olahraga menjadi salah satu bidang yang dipertimbangkan. Kolaborasi dengan Irjen membuka pembahasan mengenai kegiatan olahraga yang tidak hanya berorientasi pada aktivitas fisik. "Kami juga mau menghadirkan pendampingan program olahraga, karena olahraga sendiri kan banyak manfaatnya, dari sportivitas, teamwork, dan lain-lain," kata Nicole.

Konsep One Child One Journey

Rancangan program itu masih dalam tahap pengembangan. Bentuk kegiatan dan pembagian peran dalam kolaborasi bersama Irjen masih dibahas pihak-pihak yang terlibat.

Pendekatan berbeda disiapkan lewat konsep one child one journey. Skema ini mendorong Kakak Asuh mendampingi satu anak dalam perjalanan pendidikan yang lebih panjang, sejak taman kanak-kanak hingga sekolah menengah.

"Mendampingi mereka dari TK sampai terus ke jenjang yang berkelanjutan. Kita penginnya TK, SD, SMP, SMA sudah membuahkan hasil," ujar Nicole.

Kolaborasi juga dapat melibatkan perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Bentuk dukungan disesuaikan dengan kebutuhan pendidikan yang ditemukan di lapangan serta tujuan masing-masing mitra.

Yang Bisa Ibu Lakukan dari Rumah

Cerita anak-anak Flores mengingatkan bahwa fasilitas lengkap bukan satu-satunya penentu. Rasa ingin tahu yang dipupuk sejak dini sering jadi modal terbesar anak untuk terus belajar.

Di rumah, ibu bisa memberi ruang serupa: mendengarkan pertanyaan anak, membiarkan mereka mencoba hal baru, dan mengapresiasi usaha kecil yang mereka tunjukkan. Dukungan sederhana seperti ini membantu anak percaya pada kemampuannya sendiri.

Follow www.kabarsingkawang.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: liputan6.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks