MEMPAWAH — Pertemuan Bersama PSTI Wilayah Kalimantan Barat Tahun 2026 menjadi ajang mempererat kebersamaan antarsekolah teologi sekaligus meningkatkan kompetensi mahasiswa dan tenaga pendidik. Acara berlangsung di Sekolah Tinggi Teologi ATI Anjungan, Kabupaten Mempawah, dan dihadiri Ketua beserta jajaran PSTI Wilayah Kalimantan Barat, Wakil Bupati Mempawah bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), para dosen, mahasiswa, serta sejumlah narasumber.
Dalam sambutannya, Krisantus mengingatkan mahasiswa agar tidak cepat berpuas diri dengan jenjang pendidikan yang telah dicapai. Ia menilai semangat belajar harus terus dipelihara agar generasi muda memiliki kemampuan dan wawasan yang sesuai dengan kebutuhan zaman.
"Semangat belajar seperti ini patut dicontoh. Jangan kita berpikir cukup hanya S1, cukup S2 atau cukup S3. Selama masih ada kesempatan, teruslah belajar dan meningkatkan kemampuan," katanya.
Pendidikan Dinilai Modal Hadapi Masa Depan yang Tidak Pasti
Krisantus menilai pendidikan dan kesiapan diri merupakan modal penting dalam menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian. Setiap orang, menurutnya, tidak dapat mengetahui secara pasti perjalanan hidup yang akan dilalui.
"Tidak ada seorang pun yang tahu 10 atau 20 tahun ke depan akan menjadi apa. Karena itu, kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin. Rencana Tuhan adalah misteri, tetapi kita harus mempersiapkan diri untuk menerima rencana tersebut," ujarnya.
Ia juga mendorong mahasiswa STT ATI Anjungan agar tidak hanya memperdalam ilmu keagamaan, tetapi turut memperluas wawasan dan mengembangkan kemampuan diri. Dengan demikian, mereka diharapkan mampu mengambil peran dalam berbagai bidang kehidupan.
"Mahasiswa harus menjadi generasi yang siap ditempatkan di posisi apa pun. Bisa saja nanti ada yang menjadi pendeta, pemimpin masyarakat, anggota legislatif, kepala daerah, bahkan menduduki posisi penting lainnya. Kita tidak pernah tahu," tuturnya.
Teknologi 24 Jam: Manfaat dan Sisi Negatif Berdampingan
Pada kesempatan yang sama, Krisantus menyoroti perkembangan teknologi digital yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, khususnya bagi generasi muda. Menurutnya, teknologi menawarkan banyak manfaat apabila digunakan secara tepat, namun juga menghadirkan tantangan apabila tidak diimbangi kemampuan mengendalikan diri dan memilah konten.
"Teknologi adalah tantangan global, teknologi ada di samping kita selama 24 jam. Di dalam teknologi itu ada manfaat dan ada sisi negatifnya. Tinggal bagaimana kita memilih," katanya.
Ia mengajak mahasiswa memanfaatkan perangkat digital untuk menunjang pembelajaran, memperdalam ilmu teologi, mempelajari bahasa asing, serta mencari referensi yang dapat memperluas pengetahuan.
"Kalau digunakan untuk belajar teologi, belajar bahasa Inggris, bahasa Mandarin, bahasa Ibrani, mencari pengetahuan dan memperluas wawasan, tentu sangat baik," ujarnya.
Sebaliknya, Krisantus mengingatkan agar mahasiswa tidak menghabiskan waktu dengan aktivitas digital yang tidak memberikan manfaat bagi pengembangan diri.
"Jangan sampai handphone tidak pernah lepas dari tangan, tetapi yang dibuka hanya permainan atau konten-konten yang tidak bermanfaat. Gunakan teknologi untuk sesuatu yang produktif," pesannya.
Mahasiswa Diminta Cek Sumber Sebelum Sebar Informasi
Krisantus menegaskan, kecakapan menggunakan teknologi harus diiringi kemampuan memahami dan mengevaluasi informasi. Mahasiswa perlu bersikap kritis terhadap berbagai berita maupun konten yang beredar di media sosial.
"Mahasiswa harus mampu membedakan mana berita yang benar dan mana yang salah. Jangan menelan informasi mentah-mentah. Lihat sumbernya, periksa kebenarannya dan gunakan logika," tegasnya.
Ia mengatakan, derasnya arus informasi digital menuntut masyarakat lebih berhati-hati sebelum mempercayai atau menyebarkan suatu informasi. Memastikan sumber dan kebenaran informasi merupakan bagian penting dari literasi digital.
"Jangan hanya tahu sesuatu, tetapi tidak mampu membedakan apakah informasi itu benar atau salah. Kita wajib tahu, tetapi juga harus mampu menyaringnya," jelasnya.
Krisantus Ceritakan Perjalanan Politik Sejak 1999
Di luar materi literasi digital, Krisantus membagikan pengalaman perjalanan hidupnya kepada para mahasiswa. Ia menceritakan bahwa perjalanan karier seseorang tidak selalu dapat diperkirakan sejak awal.
Ia mengaku memulai perjalanan politik pada 1999 dan telah melalui berbagai pengalaman, mulai dari lembaga legislatif hingga masuk ke lingkungan pemerintahan.
"Dulu saya juga tidak pernah tahu akan menjadi seperti sekarang," ujarnya menggambarkan perjalanan karier yang tidak dapat diprediksi sejak awal.