Pencarian

Bea Cukai Jagoi Babang Sebut Impor Belum Optimal, Ekspor Masih Dominasi Perdagangan Lintas Batas

Jumat, 09 Oktober 2026 • 06:46:01 WIB
Bea Cukai Jagoi Babang Sebut Impor Belum Optimal, Ekspor Masih Dominasi Perdagangan Lintas Batas
Petugas melayani pelintas batas di PLBN Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang.

BENGKAYANG — Arus barang dari Malaysia ke Indonesia melalui PLBN Jagoi Babang masih tersendat. Selama ini, pelintas batas yang membawa barang dari sisi Malaysia dilayani memakai Kartu Identitas Lintas Batas dengan plafon 600 ringgit Malaysia per orang per bulan. Skema itu mengacu pada ketentuan Border Trade Agreement yang disepakati kedua negara.

Arman menjelaskan, layanan di PLBN Jagoi Babang saat ini juga masih menggunakan dokumen Pas Lintas Batas. Menurutnya, kegiatan impor yang berjalan sifatnya terbatas dan mengikuti aturan perdagangan lintas batas bilateral.

ICQS Serikin Belum Rampung Jadi Penghambat Utama

Faktor paling menentukan datang dari sisi Malaysia. Kompleks ICQS (Immigration, Customs, Quarantine and Security) di Serikin sampai sekarang belum selesai dibangun. Pemerintah Malaysia baru mencanangkan proyek itu pada Desember 2025, dengan target penyelesaian 2027 dan rencana mulai beroperasi pada 2028.

"Hal ini mungkin terjadi karena di sisi Malaysia belum selesai dibangunnya ICQS Complex di Serikin," kata Arman di Bengkayang, Kamis.

Selama fasilitas di Serikin belum beroperasi, volume barang yang masuk secara resmi ke Indonesia melalui Jagoi Babang diperkirakan tetap kecil. Arus ekspor dari sisi Indonesia justru berjalan lebih lancar karena tidak bergantung pada kesiapan kompleks tersebut.

Aturan BTA Batasi Sejumlah Komoditas Impor

Selain soal infrastruktur, ketentuan perdagangan lintas batas yang disepakati Indonesia dan Malaysia turut menentukan jenis barang yang boleh masuk. Perjanjian bilateral itu masih memakai konsep perdagangan tradisional dan membatasi sejumlah komoditas yang tidak dapat diimpor melalui perbatasan.

Pembatasan tersebut membuat ruang gerak importir di Jagoi Babang sempit. Barang yang bisa dibawa pelintas batas pun terikat pada nilai maksimal 600 ringgit per orang setiap bulan.

Jalan dan Jembatan di Sisi Indonesia Perlu Disiapkan

Kesiapan dari dalam negeri juga jadi catatan. Arman menyoroti kondisi jalan dan jembatan di wilayah Bengkayang yang harus mampu menopang distribusi barang jika perdagangan dua arah mulai tumbuh.

"Di sisi Indonesia, infrastruktur berupa jalan yang lebar dan jembatan yang kuat untuk menopang kegiatan distribusi juga menjadi aspek yang perlu diperhatikan," ujarnya.

Perbaikan infrastruktur dinilai penting agar barang yang masuk tidak menumpuk di sekitar kawasan perbatasan. Distribusi ke wilayah Bengkayang dan sekitarnya butuh jalur yang memadai begitu volume perdagangan meningkat.

Barang Kebutuhan Pokok Berpotensi Masuk Jika Fasilitas Lengkap

Arman menilai, ada peluang komoditas tertentu masuk melalui Jagoi Babang bila fasilitas perbatasan sudah lengkap dan ketentuan perdagangan memungkinkan. Barang kebutuhan pokok dan barang konsumsi disebut sebagai kandidat utama.

Namun, potensi itu tidak bisa dipastikan sekarang. Menurut Arman, realisasi impor akan bergantung pada kebutuhan pasar dan pelaku usaha di Bengkayang serta wilayah sekitar.

"Potensi riilnya akan sangat bergantung pada kebutuhan pasar dan pelaku usaha di wilayah Bengkayang dan sekitarnya," kata Arman.

Bea Cukai Jagoi Babang menegaskan, kendala pengembangan arus impor bukan persoalan satu pihak. Kesiapan fasilitas di kedua negara menjadi syarat untuk menciptakan sistem perdagangan lintas batas yang lebih tertib dan mampu menampung peningkatan arus barang secara resmi.

Follow www.kabarsingkawang.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kalbar.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks