KALIMANTAN BARAT — Badan Gizi Nasional mulai menguji coba model prasmanan untuk Makan Bergizi Gratis di lebih dari 60 dapur. Makanan dibawa dalam kondisi hangat ke kelas, lalu siswa mengambil porsi sendiri sesuai kebutuhan. Model ini diklaim membuat makanan lebih segar dan mengurangi sisa terbuang.
Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono menyampaikan uji coba ini sudah berjalan sejak awal Oktober. Ia menyebut sistem prasmanan mengacu pada pola penyediaan makanan sekolah di Jepang, dengan penyesuaian kondisi sekolah di Indonesia.
Perbedaan utamanya ada di cara penyajian. Jika sebelumnya makanan dibagikan dalam paket, kini makanan diantar ke kelas dalam keadaan hangat lalu disajikan langsung di depan siswa.
Ada dua alasan utama yang disebut Sudaryono. Pertama, makanan jadi lebih enak karena masih hangat saat disantap. Kedua, tingkat kesegarannya lebih terjaga karena jeda antara selesai dimasak dan waktu makan lebih singkat.
"Kita harapkan satu, makanannya lebih enak karena hangat-hangat. Yang kedua, tentu saja lebih fresh karena tidak ada delay waktu," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (5/10).
Pemangkasan waktu tunggu ini juga diharapkan menurunkan risiko makanan rusak sebelum dikonsumsi siswa.
Sistem prasmanan memberi keleluasaan bagi siswa untuk mengambil makanan sesuai kebutuhan. Kalau masih ada sisa, mereka boleh menambah.
Menurut laporan yang diterima Sudaryono, tingkat kehabisan makanan justru bagus. Sisa makanan yang terbuang pun lebih sedikit dibanding model paket.
"Sejauh ini tadi saya dapat laporan, tingkat kehabisan makanannya bagus. Jadi lebih fresh, kemudian ada yang mungkin mau nambah, masih ada sisa bisa nambah. Dan waste-nya lebih sedikit karena prasmanan," ujarnya.
Penerapan prasmanan bukan sekadar memindahkan makanan dari dapur ke kelas. Sekolah dan dapur perlu menyiapkan mekanisme pelayanan, termasuk soal kebersihan dan penggunaan perlengkapan makan.
Siswa juga bisa dilibatkan dalam proses pelayanan secara bergiliran. Sudaryono menekankan pola ini butuh pembiasaan agar berjalan lancar.
"Kalau prasmanan ini memang, kalau sudah terbiasa akan bagus, sama seperti di negara lain. Cuman memang perlu ada training yang cukup," katanya.
BGN belum memastikan kapan model prasmanan akan diperluas. Pelaksanaan di berbagai sekolah masih dipantau dan dievaluasi, terutama untuk melihat kesiapan dapur, tenaga pelaksana, dan jumlah penerima manfaat.
Hasil uji coba di 60 dapur ini akan jadi pertimbangan BGN sebelum menentukan langkah berikutnya. Orang tua bisa memantau perkembangan kebijakan MBG melalui kanal resmi Badan Gizi Nasional.