KALIMANTAN BARAT — Berdasarkan data Panel Harga Badan Pangan Nasional per 4 Agustus 2026, seluruh varietas beras mencatatkan penurunan harga di bawah 1% secara harian. Beras medium turun 0,8% ke level Rp 15.400 per kilogram, sementara beras premium terkoreksi 0,6% menjadi Rp 16.700 per kilogram di tingkat pedagang besar.
Penurunan ini memperpanjang tren deflasi harga pangan yang sudah berlangsung selama tiga pekan terakhir. Stabilnya pasokan membuat harga beras di tingkat penggilingan juga ikut turun, memberikan ruang bagi pedagang eceran untuk menyesuaikan harga jual tanpa mengorbankan margin.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) dalam keterangan resminya menyebutkan bahwa masuknya hasil panen gadu dari sejumlah daerah sentra menjadi faktor utama penurunan harga. Produksi beras pada Agustus diperkirakan surplus tipis dibandingkan proyeksi konsumsi nasional.
Selain panen, realisasi penyaluran beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) oleh Perum Bulog juga terus berjalan. Stok CBP (Cadangan Beras Pemerintah) yang terjaga di atas 1,5 juta ton membuat pemerintah tidak perlu melakukan operasi pasar tambahan secara agresif.
Harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani dilaporkan bergerak stabil di kisaran Rp 6.200-6.400 per kilogram. Kondisi ini masih berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP), sehingga daya beli petani dinilai tetap terjaga meskipun harga beras di hilir turun.
Di tingkat eceran modern, penurunan harga terpantau lebih lambat dibandingkan pasar tradisional. Hal ini disebabkan adanya kontrak pasokan jangka panjang antara ritel modern dengan pemasok yang biasanya baru disesuaikan setiap dua pekan sekali.
Berikut pergerakan harga beras di tingkat grosir pada Selasa (4/8) dibandingkan hari sebelumnya:
Untuk beras ketan, harga cenderung bertahan karena permintaan dari industri makanan olahan masih tinggi. Sementara itu, beras medium menjadi segmen yang paling sensitif terhadap perubahan pasokan karena porsinya paling besar dalam konsumsi rumah tangga.
Badan Pangan Nasional memproyeksikan harga beras akan terus bergerak turun secara gradual hingga akhir Agustus. Namun, penurunan diperkirakan mulai terbatas karena harga di tingkat petani sudah mendekati biaya pokok produksi.
Faktor cuaca masih menjadi risiko utama. Jika kemarau basah terjadi lebih lama dari perkiraan, masa tanam berikutnya bisa mundur dan berpotensi menahan laju penurunan harga pada September nanti.
Untuk konsumen, periode ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan pembelian dalam jumlah besar. Sementara bagi penggilingan padi, selisih antara harga jual beras dan harga beli gabah saat ini masih memberikan margin operasional yang wajar di kisaran 8-10%.
Pemerintah sendiri menegaskan tidak akan melakukan perubahan kebijakan impor dalam waktu dekat, mengingat stok dalam negeri dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir tahun.