BMKG Bekali 88 Nelayan dan Petani Kubu Raya Hadapi Kemarau Ekstrem 2026 Lewat Sekolah Lapang Cuaca

Penulis: Wisnu Wardana  •  Senin, 03 Agustus 2026 | 19:52:01 WIB
Pelaksana Harian Kepala BBMKG Wilayah II Ana Oktavia Setiowati memberikan materi Sekolah Lapang Cuaca kepada 88 nelayan dan petani di Sungai Kakap, Kubu Raya, Senin (17/2/2026).

KUBU RAYA — Pelaksana Harian Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II Tangerang Selatan, Ana Oktavia Setiowati, mengatakan kegiatan berlangsung di Aula Balai Pertemuan Kecamatan Sungai Kakap, Senin. Acara ini dihadiri Anggota Komisi V DPR RI Syarif Abdullah Alkadrie, jajaran Pemerintah Kabupaten Kubu Raya, unsur TNI/Polri, SAR, HNSI, serta pemangku kepentingan lainnya.

Para peserta tidak hanya menerima teori di dalam ruangan. Mereka diajak memahami data angin, tinggi gelombang, hingga potensi daerah penangkapan ikan agar aktivitas melaut lebih aman dan efisien.

Nelayan Lebih Hemat BBM dengan Informasi Cuaca

Melalui SLCN, nelayan diajarkan menentukan waktu melaut berdasarkan prakiraan arah dan kecepatan angin. Informasi ini dinilai krusial untuk menghindari cuaca buruk yang kerap datang tiba-tiba di perairan Kalimantan Barat.

"Pemanfaatan informasi cuaca juga diharapkan membantu nelayan menghemat penggunaan bahan bakar dan perbekalan, sehingga aktivitas penangkapan ikan menjadi lebih efektif," kata Ana Oktavia Setiowati.

Petani Siapkan Pola Tanam Adaptif Hadapi Musim Kering

Di sektor pertanian, Sekolah Lapang Iklim (SLI) memberikan pemahaman tentang penyusunan pola tanam yang adaptif. Petani diinstruksikan menentukan waktu tanam dan memilih komoditas yang sesuai dengan kondisi musim, bukan sekadar mengikuti kebiasaan turun-temurun.

BMKG memprakirakan musim kemarau 2026 lebih kering dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi ini berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan yang mengurangi ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah.

"Potensi munculnya titik api harus diantisipasi sejak dini agar tidak berkembang menjadi karhutla yang lebih luas," ujarnya.

Warga Diimbau Tidak Bakar Lahan Saat Kemarau

Para peserta sekolah lapang diharapkan menjadi agen informasi yang menyebarluaskan prakiraan cuaca dan iklim BMKG kepada kelompok nelayan, kelompok tani, dan masyarakat luas. Dengan begitu, pemanfaatan informasi tersebut semakin meluas hingga ke tingkat akar rumput.

Ana mengimbau masyarakat terus memantau informasi cuaca dan iklim melalui kanal resmi BMKG. Ia juga meminta warga tidak membuka lahan dengan cara membakar serta tidak membuang puntung rokok sembarangan.

"Perkuat sinergi dengan pemerintah daerah dalam upaya mitigasi menghadapi musim kemarau," katanya.

Kegiatan ini menjadi bagian dari kesiapsiagaan dini Pemerintah Kabupaten Kubu Raya menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin nyata. Kolaborasi antara BMKG, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko bencana hidrometeorologi di Kalimantan Barat.

Reporter: Wisnu Wardana
Sumber: kalbar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top