PONTIANAK — Fenomena langka penghancuran bintang oleh lubang hitam supermasif biasanya hanya terjadi di pusat galaksi. Namun, pengamatan terbaru yang diumumkan National Aeronautics and Space Administration (NASA) menunjukkan peristiwa tersebut justru terjadi di pinggiran galaksi, sekitar 30.000 tahun cahaya dari inti galaksi.
Objek yang dijuluki lubang hitam "yatim piatu" ini memiliki massa sekitar satu juta kali Matahari dan berada 750 juta tahun cahaya dari Bumi. Semburan cahaya yang dihasilkan dari proses tersebut bahkan sempat mengalahkan terang seluruh galaksi induknya selama beberapa bulan.
Selama ini, hampir seluruh lubang hitam supermasif diketahui bersemayam di pusat galaksi dan menjadi pusat gravitasi bagi miliaran bintang. Keberadaan objek ini di wilayah terluar galaksi memberikan petunjuk baru mengenai evolusi galaksi dan bagaimana lubang hitam supermasif bisa berpindah dari posisi asalnya.
Posisi yang menyendiri ini menjadikannya salah satu contoh paling jelas tentang lubang hitam supermasif yang mengembara. Para astronom menyebut lokasi semacam ini sangat jarang ditemui sehingga membuka pertanyaan baru tentang proses terbentuknya galaksi.
Peristiwa yang berhasil diamati ini merupakan tidal disruption event, yaitu momen ketika bintang melintas terlalu dekat dengan lubang hitam hingga gaya gravitasi ekstremnya mencabik-cabik bintang tersebut. Material bintang kemudian tertarik membentuk cakram di sekitar lubang hitam sebelum akhirnya jatuh ke dalamnya.
Proses tersebut menghasilkan semburan cahaya sangat terang atau flare yang dapat dideteksi teleskop meski terjadi ratusan juta tahun cahaya dari Bumi. Data dari satelit Neil Gehrels Swift Observatory milik NASA menunjukkan suhu material yang dipancarkan mencapai sekitar 30.000 derajat Celsius.
Fenomena ini pertama kali terdeteksi oleh Zwicky Transient Facility (ZTF) di Observatorium Palomar, California, yang setiap malam merekam sekitar 500.000 kilatan cahaya. Karena jumlah data sangat besar, para peneliti mengembangkan algoritma berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mengenali pola cahaya khas dari sebuah TDE.
Penulis utama penelitian, Robert Stein dari University of Maryland dan Goddard Space Flight Center NASA, menjelaskan bahwa AI berhasil mengidentifikasi pola cahaya tersebut meski muncul di lokasi yang selama ini tidak menjadi fokus pencarian astronom. Setelah kandidat ditemukan, pengamatan lanjutan dilakukan menggunakan SOAR Telescope di Chili dan satelit Swift.
Mahasiswa doktoral University of North Carolina, Jonathan Carney, berhasil memperoleh spektrum yang menguatkan bahwa semburan cahaya tersebut benar-benar berasal dari peristiwa penghancuran bintang oleh lubang hitam.
Menurut NASA, peristiwa TDE tergolong sangat langka. Dalam satu galaksi, fenomena ini diperkirakan hanya terjadi sekitar satu kali setiap 100.000 tahun. Meski demikian, karena jumlah galaksi di alam semesta mencapai miliaran, para astronom masih dapat menemukan sekitar 30 peristiwa TDE setiap tahun.
Hampir seluruh TDE yang ditemukan sebelumnya selalu berasal dari pusat galaksi. Penemuan di pinggiran galaksi ini menjadi pencapaian penting karena memperluas pemahaman mengenai perilaku lubang hitam supermasif dan membuka peluang untuk menemukan lebih banyak lubang hitam mengembara yang selama ini sulit dideteksi.