PONTIANAK — Kandungan oksigen terlarut (DO) di Parit Sungai Bangkong naik dari 0,42 miligram per liter menjadi 0,54 miligram per liter setelah penaburan eco enzyme beberapa pekan lalu. Angka Biochemical Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) juga tercatat menurun drastis, yakni 10 hingga 40 persen.
Kepala DLH Kota Pontianak, Syarif Usmulyono, menyebut hasil laboratorium ini sebagai indikasi awal adanya respons biologis positif pada ekosistem perairan. “Hasil laboratorium juga menunjukkan kadar nitrat turun hingga mendekati 50 persen,” ungkapnya.
Menurut Syarif, penurunan kadar nitrat menjadi indikator penting bahwa kandungan nutrien penyebab pencemaran mulai berkurang. Hal ini secara langsung memperkecil potensi pertumbuhan alga secara berlebihan di badan air.
Meski data awal menunjukkan tren positif, DLH akan terus melakukan pemantauan dan pengujian secara berkala. “Kami ingin memastikan peningkatan ini konsisten dan bisa jadi dasar kebijakan pengelolaan lingkungan ke depan,” tegasnya.
Wali Kota Edi Rusdi Kamtono melakukan penaburan cairan eco enzyme secara simbolis di Parit Jalan HOS Cokroaminoto, Jumat (17/7/2026). Kegiatan itu dirangkaikan dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMP Negeri 1 Pontianak.
“Setelah dilakukan pengujian laboratorium, terdapat peningkatan kualitas air. Kadar oksigen yang sebelumnya rendah mengalami peningkatan, begitu juga indikator lainnya,” ujar Edi.
Ia menambahkan, pihaknya terus mengajak pelajar dari tingkat TK hingga SMA/SMK untuk bersama-sama menjaga lingkungan, baik di sekolah maupun tempat tinggal. Selain penaburan eco enzyme, Wali Kota juga mengimbau masyarakat tidak membuang sampah sembarangan dan mulai mengelola sampah dari sumbernya.
Kepala SMP Negeri 1 Pontianak, Kiswanti, mengatakan penaburan eco enzyme merupakan bagian dari tema MPLS tahun ini, yakni “MPLS Ramah, Hijau, dan Berkarakter”. Sekolah ingin menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini kepada peserta didik baru.
Eco enzyme yang digunakan dalam aksi tersebut bukan produk instan. Sejak Februari 2026, para siswa dan dewan guru telah memproduksi cairan itu melalui kegiatan kokurikuler. Hasilnya, sebanyak 286 liter eco enzyme dihasilkan siswa dan 100 liter lainnya dari para guru.
Program ini juga menjadi bagian dari komitmen SMP Negeri 1 Pontianak sebagai Sekolah Adiwiyata Nasional yang tengah menuju predikat Adiwiyata Mandiri.
Siswi kelas VIII C, Christine Agusta Putri Irawan, mengaku senang terlibat dalam aksi tersebut. Menurutnya, eco enzyme bermanfaat untuk menjernihkan selokan yang tercemar dan membunuh kuman. Sementara itu, Isabel Dhani Pudiarjo tertarik untuk mencoba membuat eco enzyme di rumah karena manfaatnya yang beragam, termasuk memanfaatkan sisa kulit buah sebagai kompos.