KALIMANTAN BARAT — Meta meramaikan persaingan AI coding dengan merilis Muse Spark 1.1. Model multimodal ini dirancang khusus untuk tugas agen (agentic coding). Meta mengklaim Spark 1.1 mampu melakukan penalaran multi-langkah, mengelola alur kerja digital, hingga menyebarkan fitur baru di sistem enterprise.
Salah satu keunggulan utama Spark 1.1 ada di banderolnya. Meta memasang tarif USD 1,25 per juta input token dan USD 4,25 per juta output token. Dengan kurs Rp 16.500 per dolar AS, biayanya sekitar Rp 20.600 per juta token input dan Rp 70.100 per juta token output.
Angka ini menempatkan Spark 1.1 sedikit di atas Claude Haiku 4.5 milik Anthropic dan GPT-5.6 Luna dari OpenAI. Meski begitu, semuanya masih dalam kisaran harga yang sama. Dengan harga segitu, Meta jelas ingin merebut hati enterprise yang mulai jenuh dengan biaya langganan AI premium.
Dalam siaran persnya, Meta memposisikan Spark 1.1 sebagai solusi untuk personal agentic tasks. Tugas-tugas ini membutuhkan perencanaan dan orkestrasi lintas aplikasi eksternal. Artinya, model ini tidak sekadar menulis kode, tetapi juga bisa menjalankan proses kompleks secara otonom — mulai dari memperbaiki bug, membantu migrasi kode besar-besaran, hingga mengelola sistem enterprise.
"Muse Spark 1.1 delivers exceptional performance in personal agentic tasks that require planning and orchestration across a range of external apps and services," tulis Meta dalam blog resminya.
Perilisan Spark 1.1 cukup penting bagi Meta hingga membuat Mark Zuckerberg kembali aktif di platform X. Ini adalah unggahan pertamanya dalam tiga tahun. Postingan terakhirnya sebelum ini adalah pada Juli 2023, bertepatan dengan rebranding Twitter menjadi X.
Dalam unggahannya, Zuckerberg menyebut Spark sebagai "strong agentic and coding model at a very low price." Ia menambahkan bahwa model ini unggul dalam "agentic performance, tool use, and computer use." Zuckerberg juga memberi kode bahwa masih akan ada model-model baru dari Meta — "more to come soon," tulisnya.
Diakui atau tidak, Meta memang agak terlambat masuk ke segmen AI coding. Anthropic dan OpenAI sudah lebih dulu memiliki model serupa yang matang. Namun, kehadiran Spark 1.1 tetap menjadi ancaman serius. Faktor harga dan ekosistem open-source yang selama ini menjadi ciri khas Meta bisa menjadi pembeda utama.
Meta bukan pendatang baru di dunia AI. Perusahaan telah merilis sejumlah model foundation AI dalam beberapa tahun terakhir. Pekan ini saja, Meta juga meluncurkan Muse Image, model generasi gambar AI terbaru. Sementara itu, kompetisi kian memanas dengan hadirnya Grok versi baru dari SpaceXAI dan keluarga model GPT-5.6 dari OpenAI yang dirilis di hari yang sama.
Bagi developer dan enterprise Indonesia yang ingin bereksperimen dengan AI coding murah, Spark 1.1 patut dilirik. Terutama jika kebutuhan utamanya adalah otomatisasi proses dan debugging skala besar dengan biaya token yang terkendali.