KALIMANTAN BARAT — Setelah sesi pratayang selama empat jam, kesan pertama terhadap The Blood of Dawnwalker berubah drastis. Awalnya game ini nyaris masuk daftar "skip" karena jadwal rilis September 2025 yang super ketat. Namun, sistem pertarungan yang menuntut presisi, mekanisme waktu yang membatasi durasi bermain, serta dunia fantasi abad ke-14 yang kelam berhasil membuat saya ketagihan dan siap menyisihkan waktu puluhan jam untuk memainkannya.
Rebel Wolves bukan studio sembarangan. Dipimpin oleh Konrad Tomaszkiewicz, mantan pengembang kunci di balik The Witcher 3, game ini memang mengambil banyak inspirasi dari seri tersebut. Mulai dari latar Eropa fantasi gelap, antarmuka menu yang akrab, hingga protagonis dengan rambut panjang dan luka di wajah—para penggemar Geralt of Rivia akan langsung merasa "betah" dalam hitungan menit.
Anda bermain sebagai Coen, seorang manusia yang diubah menjadi Dawnwalker oleh vampir kuno bernama Brencis. Ia bukan vampir murni, melainkan makhluk yang tetap manusia di siang hari dan memiliki kekuatan vampir saat malam tiba. Premis ini membuka peluang narasi besar: mempertahankan kemanusiaan atau menyerah pada kegelapan.
Berbeda dengan The Witcher 3, sistem tempur di The Blood of Dawnwalker mengadopsi mekanisme arah—mirip dengan Kingdom Come: Deliverance 2 versi third-person. Setiap serangan dan blok harus diarahkan ke kiri, kanan, atas, atau bawah menggunakan stik kanan. Anda tidak bisa sekadar menahan tombol blok dan berharap selamat.
Butuh beberapa pertarungan untuk membiasakan diri, tetapi begitu ritmenya terasa, kepuasan yang dihasilkan sangat besar. Saya sempat bertahan hidup melawan kamp musuh yang levelnya jauh di atas karakter—setelah puluhan kali gagal—tanpa terkena satu pukulan pun. Sayangnya, kamera kadang bergerak kacau saat musuh menyerang dari luar layar, membuat beberapa pukulan terasa tidak adil.
Kekuatan vampir seperti menggigit leher musuh untuk menyembuhkan diri menjadi pelengkap yang solid. Di siang hari, kekuatan ini terkunci, tetapi Coen bisa menggunakan sihir sebagai gantinya. Semua terhubung ke pohon keterampilan yang cukup dalam, menawarkan buff standar hingga augmentasi unik untuk kemampuan vampir.
Fitur paling menarik adalah batas waktu yang ketat. Coen memiliki tepat 30 hari dan 30 malam untuk mengalahkan Brencis dan tiga jenderal vampirnya. Setiap misi yang diselesaikan akan memajukan waktu—game selalu memberi peringatan sebelum Anda mengambil keputusan yang menghabiskan "chunk" waktu.
Beberapa misi hanya bisa dilakukan di malam hari saat Coen menjadi vampir, sementara yang lain hanya terbuka di siang hari saat ia manusia. Sistem ini menciptakan urgensi yang tidak biasa di RPG kebanyakan. Saya bahkan sempat gagal otomatis dalam satu misi karena waktu yang tersisa tidak cukup sebelum storybeat wajib dipicu. Pertanyaan besarnya: apakah pemain bisa "menghabiskan" waktu dan terkunci dari misi utama? Ini akan menjadi kunci replayability game.
Setelah sesi pratayang, perasaan yang muncul adalah frustrasi karena harus menunggu hingga September untuk melanjutkan petualangan Coen. Fondasi RPG-nya terasa familier, tetapi pertarungan yang presisi dan sistem batas waktu yang inovatif membuat setiap keputusan terasa berbobot. Tim Rebel Wolves menekankan bahwa "pilihan" akan memainkan peran besar dalam cerita utama.
The Blood of Dawnwalker akan dirilis pada 1 September 2025 untuk PC, PS5, dan Xbox Series X/S. Bagi Anda yang muak dengan RPG open-world yang membiarkan pemain menunda misi utama tanpa konsekuensi, game ini bisa menjadi angin segar.